Sepenggal surat cinta

Tulisan ini ditulis persis ditangga tempat biasa ia terduduk selesai dari tugasnya. Iya. Seorang perempuan dengan perawakan gemuk dan berkacamata itu kini usianya menginjak 25 tahun, hampir seperempat abad ia menghabiskan umurnya didunia ini.

Kegagalan? Ah sepertinya itu makanan sehari-hari, bukankah jika hari ini gagal esok dan seterusnya juga akan merasakan gagal lagi? Jawabannya adalah iya. Disetiap gagalnya ia selalu menangis, kecewa bahkan kadang merasa dirinya tidak mampu melakukan apa-apa tapi setelahnya ia ternyata bisa bangkit dan melanjutkan hidupnya. Sepertinya sepi, sedih, sendiri, kacau dan gagal adalah teman baiknya sampai saat ini. Jangan ditanya berapa kali dalam seminggu ia menangis dikamarnya waktu malam atau jangan ditanya seberapa level kesepiannya waktu melewati banyak hal yang berat dihidupnya. Karena jawabannya adalah tak terhingga. Ia masih bergelut dengan banyak hal yang mungkin akan menjadi gagal yang berikutnya, tapi ia makin yakin bahwa jika gagal yang ini berarti ia hampir menghabiskan jatah gagalnya didunia ini dan tinggal menunggu hasil yang baik-baik atas apa yang ia tanam sejak dulu. 

Perempuan itu, perempuan yang selalu merasa dirinya tidak baik dan tidak pintar dimata semua orang kini sedang memperbaiki semua pola pikirnya. Bukan, bukan memperbaiki segala tindak dan tingkah lakunya untuk orang lain tapi untuk dirinya sendiri. Betapa tidak, ia selalu menyalahkan dan bertanya kepada dirinya sendiri setiap orang lain melakukan kesalahan atau merasa dikecewakan, rasanya dunia begitu jahat ketika itu. Maka saat ini, ia mulai memperbaiki pola pikir dan keadaannya. Bukankah jika berbuat baik itu adalah untuk diri sendiri juga? Bukankah setiap melakukan banyak hal baik berarti membuka jalan untuk diri mendapatkan hal yang lebih baik? Lantas untuk apa masih meminta perlakuan baik juga dari orang lain?. 

Untuk hal itu saja ia butuh waktu cukup lama ditanam dalam fikirannya. Saat ini, walau belum sepenuhnya ia merubah semua cara menerima, memaafkan dan menanamkan pola fikir yang lebih baik untuk dirinya tapi ia mampu memulai itu.

Memulai untuk mendahulukan apapun untuk dirinya, memulai untuk banyak memilih dirinya sendiri, memulai untuk banyak hal walaupun kadang membuatnya harus menjauh dari banyaknya kejadian-kejadian karena mungkin itu yang akan menjadi trigger dan membuat ia lupa bagaimana memposisikan dirinya sendiri dulu diatas urusan lainnya. Bukan untuk menjadi egois atau menang sendiri tapi untuk melindungi dirinya dari banyak hal yang akan selalu membuatnya patah untuk berulang kali. 

Maka, terimalah perempuan ini, perempuan dengan segala kekurangannya, perempuan dengan banyak lukanya, perempuan dengan banyaknya terbentur-patah-sepi-kosong dan banyak ruang yang harus diisi dihidupnya.


Selamat ulangtahun, perihal doa biar kita ucap semua kepada Tuhan, ya. Untuk beratnya pundak, untuk sesaknya dada, untuk banyaknya suara yang ribut didalam kepala satu-satu kita jalani dengan baik dan pelan-pelan. Untuk banyak air mata yang keluar menangisi diri sendiri tak perlu ditahan dan berhenti ya, sepertinya ini akan menjadi tangis yang selalu bahagia setelah ini. Akan banyak semoga, tapi semoga kita mampu menjalani dan menikmati hidup dalam banyak usaha terbentur dan terbentuk ya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

izinkan aku mengabadikannya

Aku selalu dirayakan